Puisi-Puisi WA Story

Hari itu, saya ingin mencoba ‘eksperimen’ yang kerap dilakukan oleh penyair Hasan Aspahani di twitter: Membebaskan puisi dari foto puitis. Aturan mainnya sederhana: saya akan meminta kawan-kawan saya untuk mengirimkan foto-foto puitis, dan saya harus membuat sebuah puisi yang berkaitan dengan foto itu. Saya harus masuk ke dalam foto tersebut, merasakan warnanya, mendengar suaranya, meraba bentuknya, mencium aromanya, kemudian menuangkan apa yang saya rasakan ke dalam kata-kata. Setelah saya buat beberapa, saya pun ketagihan. Rasanya nikmat sekali menjadi penyair. Berikut saya sertakan beberapa. Tak lupa judulnya:

1. Sepagi buta

Jalanan kota telah terbangun
jalinan kata mulai tertenun
silang-menyilang
sepanjang jalan itu
 
Kita akan menebak-nebak 
siapa yang mati  
sepagi ini
dari sesuatu yang putus
dalam percakapan kita
2. Pesawat Kertas
Pesawat kertas yang kaulipat 
waktu kecil
yang tercebur ke kolam
kini bangkit dan
mengibas-ngibaskan sayap besinya
 
Harapan-harapan yang 
kautulis di punggungnya 
kini memenuhi kepalamu 
yang bersandar di samping jendela
 
Jarak tak cukup menampung jauh
Jarak tak lihai menangkap dekat
Di ujung pandang: Rasi bintang orion
jauh dari matahari
dekat bagi malamhari
 
3. Yang Kuinginkan Hanya Bermain
Di dalam diri kami ada pria yang ragu
memikirkan nasib yang tak pasti
 
Namun semua anak kecil tahu
nasib adalah permainan tak adil
ia telah tertulis di daun-daun taman ini
 
Karena pena sudah terangkat dan tinta sudah mengering,
kami bermain sepuas-puasnya
4. Hujan 
Pembunuhan telah terjadi di dalam hujan
Jeritnya tak terdengar
Darahnya tak tercium
Jejaknya tak tertangkap
 
Namun demikian aku harus tetap diam
agar lampu jalan itu terus menyala
dan dapat mencukupi keluarganya
 
5. Purnama
Purnama bangkit dari kuburan pasir
menyala dan menyela gelap
mengendap di dalam awan
bagaikan penembak jitu yang hendak membidik kepala
 
Kemudian terbitlah ia
melesatkan sinarNya
kepada siapa yang meminta
Tabik.

Facebook Comments

Leave a Reply

8 Replies to “Puisi-Puisi WA Story”

  1. Rizalghod

    Tergantung makna \”dusta\” yang dimaksud. Jika maksudnya adl permainan makna dalam puisi, justru penyair dianjurkan berdusta. Karena bila penyair menceritakan apa adanya, puisi masih berada di titik kilometer ke nol dlm perjalanan bahasa. Ia harus berdusta bahwa matahari adalah ibu, bahwa senja adalah seorang nenek, bahwa tikus adl seorang koruptor, agar menimbulkan cita rasa berbahasa. Tapi jika dusta diartikan sebagai dusta. Saya kira mesti dikembalikan kpd masing2 niat penyair. Apakah tujuan puisi untuk menghibur pembaca? Ya. Tapi itu bukan satu2nya. Yang paling utama bagi saya adalah menciptakan gaya baru dlm berbahasa. Memperkaya budaya.

    Reply
  2. Rizalghod

    1. Pembendaharaan kata. Didapat dengan banyak membaca2. Pemilihan diksi. Didapat dg banyak menulis.3. Penggunaan citraan, majas, rima, dan irama. Didapat dg banyak latiham

    Reply
  3. Rizalghod

    Itu udah cukup. Asalkan kalo nemu kata-kata yang unik dan baru dicatat dan dicari maknanya di kamus. Pas nulis jangan lupa, kata-kata itu dibawa. Kalo mau nambah, bisa baca puisi penyair lain juga. Catat diksi mereka dan coba pake. Plagiat-plagiat dikit gapapa buat latihan

    Reply
    • rizalghod Post author

      1. Buku Tidak ada new york hari ini, Aan Mansyur
      2. Buku selamat menunaikan ibadah puisi, Joko Pinurbo
      3. Simfoni 2, Subagyo Sastrowardoyo
      4. Bilang Begini maksudnya begitu, Sapardi Djoko Damono
      Itu saja dulu

      Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.