Berdamai dengan Ketidakrasionalan Agama

Semua pemeluk agama di dunia pasti mengatakan agamanya paling rasional. Ketika agamanya disebut tidak rasional, mereka tidak terima. Seolah rasionalitas adalah sifat inheren yang selalu melekat di dalam agamanya kapanpun dimanapun. Padahal rasionalitas tak selalu mengiringi ajaran agama, bahkan mengaitkan seluruh ajaran agama dengan rasionalitas adalah bentuk penghinaan terhadap agama tersebut. 

Mengapa? 

Karena agama sendiri mensyaratkan dirinya untuk tidak rasional. 

Banyak orang beragama salah paham tentang definisi rasionalitas. Rasionalitas sering disejajarkan dengan logika dan kebenaran. Akibatnya kata rasional dipuja-puja dan sebaliknya, kata tidak rasional dibunuh dan dibuli. 

Padahal rasionalitas berbeda dengan logika. Tentang perbedaan ini, saya ingat kisah Nabi Ibrahim. Konon, Setelah ia mendapat ilham bahwa Tuhan yang ia cari bukan bintang, bukan bulan, bukan matahari, tetapi Allah yang menciptakan semua itu, segera ia menuju tempat peribadatan kaumnya. Tempat itu sepi. Seluruh penduduk sedang berkumpul di alun-alun. Ia lalu menghancurkan seluruh berhala kecuali satu berhala paling besar. Ibrahim menyisakan berhala jumbo itu dan mengalungkan kapak ke lehernya.

Ketika penduduk kembali, alangkah terkejutnya mereka ketika melihat reruntuhan berhala di tempat peribadatan. Lalu atas informasi seorang penduduk, Ibrahim dipanggil dan dituduh  sebagai aktor di balik tindak kriminal itu. 

“Mengapa kalian tidak menuduh berhala paling besar itu? Coba tanya ke dia,” ucap Ibrahim

Kaumnya menjawab, “Jancuk! Jangan becanda. Berhala tidak bisa bergerak dan tidak bisa bicara.”

Ibrahim angkat kuda dan skak-mat, “Nah sudah tahu berhala tidak bisa bergerak dan bicara, mengapa kalian menyembahnya?”

Tak ada yang bisa menjawab. 

Raja Namrud geram, lebih-lebih setelah Ibrahim kemudian memperkenalkan Tuahnnya, Allah, ke khalayak ramai. Ibrahim pun divonis hukuman dibakar hidup-hidup.

Ketika hendak dibakar, konon, berkat izin Allah api di sekitar tubuh ibrahim menjadi dingin. Ketika api padam, Ibrahim keluar dari bara yang masih menyala-nyala tanpa luka dan lecet. Wallahu a’lam.

Kembali ke laptop!

Ketika Ibrahim mengajak kaumnya berdialektika soal berhala, ia sedang menggunakan logika untuk membela agamanya. 

Dan ketika Ibrahim keluar dari bara api dalam kondisi sehat wal afiyat, ia sedang menunjukan salah satu ketidakrasioanalan agamanya. 

Dari sini, bisa kita tarik bahwa:

Logika adalah alat untuk melacak alur berpikir. Ketika suatu pemikiran sesuai dengan kaidah-kaidah logika, maka pemikiran itu disebut logis.
Rasionalitas adalah alat untuk menguji kesesuaian suatu peristiwa dengan hukum alam. Ketika suatu peristiwa bisa dijelaskan dengan hukum alam, maka peristiwa itu disebut rasional.

Logika mirip seperti program yang tertanam di dalam kepala manusia. Semua orang di dunia, tak peduli warna kulitnya, apapun latar belakangnya, memiliki perangkat logika yang sama. Asalkan sudah tamyiz dan tidak gila, semua manusia pasti mengafirmasi proposisi dua ditambah dua sama dengan empat dan menolak proposisi segitiga punya empat sudut. Logika bersifat universal dan inheren. Oleh karena itu, logika bisa dijadikan rute  manusia menemukan kebenaran. Itulah yang dikerjakan Nabi Ibrahim ketika berdakwah pada kaumnya.

Berbeda dari logika, rasionalitas bukanlah innate idea (ide bawaan). Ia adalah program yang disusupkan diam-diam ke dalam pikiran kita lewat budaya, agama, dan perkembangan teknologi. Implikasinya, dua orang dari latar belakang berbeda memiliki rasionalitas berbeda pula. Misalnya, perjalanan ke bulan menurut generasi sebelum Neil Amstrong merupakan peristiwa yang tidak rasional karena saat itu hukum alam tidak mengizinkan hal tersebut. Tapi kenyataan bahwa manusia bisa pergi ke bulan menurut generasi milenial sangat rasioanl dan sangat terang, sebab hukum fisika dan astronomi saat ini memfasilitasinya.

Pun begitu, peristiwa Nabi Ibrahim dibakar adalah peristiwa yang tidak rasional, bukan saja bagi orang di zaman Namrud, tapi juga sampai umat manusia sekarang, sebab belum ada hukum alam yang bisa menjelaskannya. Ketidakrasionalan mukjizat ini tidak menurunkan derajat Ibrahim. Justru karenanya Nabi Ibrahim patut diapresiasi dan Tuhan yang ia punya harus disembah.

 Secara sederhana, hubungan logis dan rasional ditunjukkan pada diagram berikut:

Ada 3 daerah di dalam diagram itu:

Satu, daerah oranye: Daerah Rasional-Logis. Biasa disebut daerah rasional saja. Contoh proposisi yang masuk dalam daerah ini adalah: Setiap segiempat pasti memiliki empat sisi. Semua manusia pasti mati. Manusia bisa mengirim berita ke seluruh dunia dalam waktu sedetik. 

Dua, daerah putih: Daerah Tak rasional-Tak Logis. Disebut juga daerah irrasional. Contohnya: Satu ditambah satu sama dengan satu. Manusia bisa diam dan bergerak bersama-sama. Ada Segitiga yang bulat.

Tiga, daerah biru: Daerah Tidak rasional-Logis. Nah ini disebut Supra-rasional. Supra-rasional adalah pengetahuan yang masih memenuhi asas logika, akan tetapi karena ketidakcukupan alat, manusia belum bisa mengaitkannya dengan hukum alam. Contohnya: Mukjizat. Adanya Tuhan. Adanya Surga. Adanya Malaikat. Adanya Hari Kiamat

Setelah membaca ini, mari kita mengambil kembali kata “tak rasional” yang sudah kita bunuh di tempat sampah. Kita berusaha mengenali kembali maknanya dan memakainya lagi dalam kosakata keberagamaan kita. 

Facebook Comments

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.