Dua Bilik Hamba (Part 2)

Serupa tapi tak sama. Itulah gambaran Fatih dan Maftuh kecil di kepala Kiai Anwar. Fatih memiliki aura lebih pekat. Boleh jadi ia memiliki bakat kesaktikan melebihi ayahnya. Tak henti-henti Kiai Anwar mengamati sekujur tubuh Fatih, lama sekali seolah sekalian menerawang masa depannya.

“Tadi apa pertanyaan bahsul masail Fatih?”

“Mengapa rata-rata lulusan pesantren hidup miskin,” ucap Fatih. Ia sudah menunggu-nunggu kesempatan emas bertanya langsung kepada Kiai seperti ini.

“O… Pasti kamu nanya itu karena bapakmu miskin, kan?”

“Itu salah satunya. Selain Bapak saya, lulusan pesantren lain pun demikian.”

“Begini Fatih. Miskin dan kaya itu bukan alat ukur kebahagiaan. Ada yang hidup miskin tapi bahagia. Ada yang hidup kaya tapi sengsara. Ukuran kebahagiaan adalah seberapa qonaah atas keputusan Tuhan. Orang zuhud justru hidup lebih bahagia dibanding orang yang terobsesi dengan dunia. Lebih bahagia mana: Orang yang terlepas dari hasrat dunia atau orang yang dikejar-kejar dan dikekang nafsu dunia?”

“Kalau orang yang mengaku zuhud  itu hidup sendiri di hutan, tak punya siapa-siapa, mungkin tidak masalah. Tapi kebanyakan kaum miskin yang ‘mengaku zuhud’ nyatanya juga punya isteri dan anak yang belum tentu mau kelaparan. Orang zuhud seperti ini tak akan bahagia karena setiap hari dihantui rengekan anak dan istrinya.”

Fatih ternyata lebih cerdas dari yang Kiai Anwar kira. Penjelasan biasa tak akan mempan.

“Kalau kamu ingin tahu masalah utama kemiskinan kaum santri kamu harus belajar giat di pesantren. Cari tahu apa yang salah dari keilmuan pesantren dan penerapannya.”

“Apa Kiai tidak bisa memberitahukan akar masalah itu sekarang saja?”

“Pondasi agamamu belum kuat. Kalau kamu sudah faham enam kitab induk pesantren, akan kuberitahu.”

“Kitab apa saja?”

“Jauharotuttauhid, Fathul Qorib, Tafsir Jalalain, Mustolah Hadis, Syarah Waroqot, Alfiyah Ibnu Malik, Jawahir Al-Bukhori. Kalau kamu sudah paham enam kitab ini kamu akan tahu akar masalah itu dengan sendirinya.”

“Siap Kiai.”

“Bagus.”

Puas dengan jawaban Kiai, Fatih dan Kang Muksin pamit undur diri. Sementara Kiai Anwar melanjutkan zikir hauqolahnya.

Hati Fatih berbunga-bunga. Segera setelah ia melahap enam kitab induk itu misteri pesantren akan ia ungkap. Lingkungan pesantren mendadak berubah menjadi terang benderang. Kubah masjid memancarkan cahaya seperti berlian. Tiang-tiang masjid mirip batangan emas. Kelas-Udara malam berbau sangat harum. Terdengar bunyi santri membaca Quran, merapal amrithi, menambal afsahan Jalalain, dan berdiskusi fiqih. Sangat merdu sekali. 

Karena Fatih sempat bersitegang dengan Kang Soleh, Kang Muksin lalu membawanya ke Kamar Pengurus. Maksudnya supaya Fatih meminta maaf. Dalam hati Kang Muksin khawatir Fatih tak mau minta maaf dan sikap dinginnya menambah jengkel Kang Soleh. 

Di kamar pengurus santri-santri senior sudah menunggu. Kata-kata bulian telah diasah di mulut. Kang Soleh mengayun-ayunkan rotan, bersiap menghantam punggung Fatih. Santri yang tak tahu diri wajib diberi pelajaran. 

Namun begitu Fatih masuk, kenyataannya di luar dugaan.

“Maaf. Saya mohon maaf.”

Semua orang terheran-heran. 

“Silakan hukum saya. Tapi jangan larang saya mengikuti bahsul masail lagi. Saya masih ingin belajar agama. Saya akan mematuhi aturan pesantren.”

Bagai melihat muallaf mengucapkan syahadat, santri-santri senior bersama-sama mengucapkan hamdalah. Amarah yang berapi-api padam seketika. Kata-kata keras dan kasar melunak di mulut. Kang Soleh menyimpan kembali rotannya. Malah ia menghampiri Fatih dan merangkul bahunya.

“Baguslah. Ayo kita sama-sama belajar agama.”

“Terima kasih, Kang.”

Semua pengurus mendekat menyalami Fatih. Anak Pak Maftuh satu ini tak henti-henti menarik perhatian.

Dalam pada itu, tiba-tiba datang orang usia empat puluhan, memakai kaos partai, sarung kotak-kotak, dan sepatu boot. Kumis dan rambutnya separuh beruban. Ia mengucapkan salam lalu duduk di teras kamar pengurus. Sekejap kemudian pengurus keluar dan menyalami orang tua itu. Fatih yang tak tahu apa-apa ikut-ikutan mencium tangannya. 

“Lho… Kamu anaknya Pak Maftuh ya?”

“Iya.”

“Wah sudah besar ya sekarang.”

 

Masih progres

 

Sebelumnya: Dua Bilik Hamba (1)

 

 

 

Facebook Comments

Leave a Reply

One Reply to “Dua Bilik Hamba (Part 2)”

  1. Pingback: Dua Bilik Hamba (1) – rizalghod

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.