Dua Bilik Hamba (1)

“Mengapa alumni-alumni pesantren rata-rata hidup miskin?”

Pertanyaan yang mbrojol dari mulut Fatih itu seketika mengheningkan seisi ruangan bahsul masail.  Moderator diskusi, Kang Muksin, bengong sebentar, kemudian bisik-bisik kanan-kiri. Kang Muksin akhirnya tahu bahwa Fatih adalah santri baru, yang barangkali belum mengetahui mekanisme bahsul masail yang diadakan rutin setiap malam selasa itu. 

“Fatih, bahsul masail ini diskusi fikih. Topik hari ini adalah zakat. Pertanyaanmu keluar dari topik. Tidak tepat dibahas di sini.””

“Saya tahu, Kang. Saya hanya ingin mendengar pendapat teman-teman,” ucap Fatih dengan santai.

Santri-santri lain nggrundel dan menolak pertanyaan konyol Fatih menjadi mosi diskusi. Mendengar nggrundelan itu, Kang Muksin membujuk Fatih dengan diplomatis.

“Pertanyaan itu kan bisa didiskusikan di kamar, Fatih. Coba cari pertanyaan lain yang ada kaitannya dengan materi zakat.”

Fatih menjawab dengan lantang dan tegas.

“Kalau diusut, masalah kemiskinan ini sebetulnya berkaitan erat dengan zakat, Kang. Bagaimana mungkin ibadah zakat bisa dilaksanakan, jika santri-santri yang mengerti seluk-beluk zakat, hidup miskin dan langganan jadi mustahiq? Siapa yang akan menunaikan zakat sesuai kaidah fiqih? Lebih jauh, bagaimana mungkin kemiskinan umat islam bisa dihapuskan, sementara orang-orang yang mengerti hukum islam, hidup miskin? Siapa yang akan menerapkan hukum islam untuk menghapus kemiskinan?” 

Santri-santri lain diam. Sebentar mereka meresapi ucapan Fatih. Lalu sebentar kemudian, santri senior, Kang Soleh, angkat bicara.

“Bagaimana bisa kamu menyimpulkan  rata-rata alumni pesantren hidup miskin, sementara kamu baru mondok sebulan?”

“Saya setiap hari pergi ke kantor pondok, Kang, dan meneliti data alumni dari tahun 1990 sampai 2010: pekerjaan, gaji, dan beban keluarga mereka. Kebetulan ada banyak alumni yang merangkap sebagai walisantri, jadi saya tidak kesulitan mengumpulkan data. Hasil yang saya dapatkan adalah, 47% santri berprofesi sebagai petani, 31% berprofesi sebagai tukang atau kuli, dan 20% pengangguran. Gaji mereka rata-rata 500 ribu per bulan, sangat jauh dari layak. Dan hanya 2% santri yang hidup sejahtera: jadi pengusaha, pejabat, atau juragan. Mengapa lulusan pesantren kalah sejahtera dengan lulusan lembaga pendidikan lain, misalnya SMK, politeknik, Institut, dan universitas? Apa yang salah dari pendidikan pesantren? Itu saja pertanyaan saya.”

“Omong kosong! keluarkan bocah ini!” ucap Kang Soleh dengan wajah merah padam. Ia tak suka martabat kaum santri dihina oleh bocah yang baru kemarin sore numpang di pesantren. Membaca pojok Jurrumiyah saja tidak bisa, berani-beraninya dia merendahkan senior dan alumni pesantren yang sudah khatam Ihya Ulumiddin. 

Majlis ricuh. Kang Muksin selaku moderator berkali-kali membentak-bentak mikrofon agar santri tetap kondusif. Tapi Kang Soleh dan santri senior lain telanjur terbawa emosi. Majlis yang mulanya penuh dengan argumen-argumen ciamik dan dalil-dalil turats kini berganti penuh dengan cacian dan makian. Fatih masih duduk di meja lesehan, sambil menutup telinga dihujani hinaan. Melihat kondisi yang semakin kacau, Kang Muksin terpaksa mengakhiri bahsul masail, lalu menyeret Fatih ke ndalem untuk dihadapkan pada kiai.

Kiai Anwar yang sedang asyik berzikir hauqolah di ruang tamu, harus menghentikan putaran tasbehnya, begitu salam Kang Muksin terdengar di depan pintu. Pasti ada hal yang penting, pikirnya. 

“Ada apa, Muksin?”

“Ini Kiai, Putranya Pak Maftuh bikin ricuh.” 

Melihat wajah Fatih, seketika Kyai Anwar teringat pada santri kesayangannya dulu, Maftuh, bapak dari Fatih. Maftuh muda dulu adalah santri paling jago baca kitab kuning dan selalu menjadi rujukan bahsul masail. Ia menyabet rekor sebagai ketua pondok terlama, 13 tahun!, sebelum akhirnya dijodohkan. Tak heran jika ia lalu menjadi tangan kanan Kiai Anwar untuk urusan-urusan penting. Tak ada santri yang tak mengenalnya. Kiai Anwar bahkan masih sering menceritakan riwayat Pak Maftuh di pengajian-pengajian sebagai teladan.

“Waduh.. Masih santri baru, sudah menarik perhatian. Kamu mirip sekali sama bapakmu, Cung.”

Fatih geleng-geleng. Ia tak mau disamakan dengan bapaknya karena di mata Fatih, bapaknya hanya lelaki  miskin, malas, kasar, dan keras kepala. 

.    .    .

“Pokoknya kamu harus mondok! Titik!” bentak Pak Maftuh suatu hari pada Fatih.

“Kenapa harus mondok, Pak? Aku pengen kuliah. Aku ngga mau kaya Bapak.”

“Memangnya Bapak kenapa?!”

“Miskin.”

Kepala Pak Maftuh mendidih. Tamparan dan pukulan mendarat  di wajah Fatih. Fatih sempoyongan dan hampir hilang kesadaran. Bu Maryam berlari dari dapur dan langsung sujud di bawah kaki suaminya, menangis meminta ia menyudahi perbuatannya. 

“Sudah, hentikan, Pak. Biar ibu saja yang membujuk Fatih. Bapak ke kamar saja. Sudah ibu siapkan teh manis dan singkong rebus.” rintih ibunya disertai tangis.

Pak Maftuh pun melengos dan membiarkan dua anak-beranak itu tergeletak di ruang tamu. Bu Maryam dengan susah payah membawa Fatih ke dapur dan mengompres luka di pipinya.

“Nak, sudahlah, nurut saja sama bapakmu. Mondok, ya?”

“Aku ngga mau kaya Bapak, Bu. Miskin

“Jangan menggeneralisir begitu. Bapakmu hanya salah satu produk pesantren. Selain Bapak, ada banyak alumni pesantren yang hidup sejahtera dan mulia. Misalnya, Gus Dur Presiden RI, Pak Mahfud MD Ketua MK, Pak Ma’ruf Amin Ketua MUI.”

“Tapi yang hidup sejahtera itu sangat sedikit jumlahnya. Ngga ada 1%.”

Ibunya kehabisan kata-kata. Anak lanangnya ini meskipun baru lulus SMA, sudah bisa berpikir seperti sarjana. Kewalahan Bu Maryam menghadapinya.

“Fatih. Apa kamu tahu apa yang menjadikan banyak alumni pesantren hidup miskin?”

“Tidak tahu.”

“Pasti ada penyebabnya. Gusti Allah itu pasti menciptakan sesuatu lengkap dengan penyebabnya. Menurut ibu, alumni-alumni yang sukses itu pasti menghindari hal-hal yang menyebabkan mereka miskin.”

“Kira-kira apa penyebabnya?”

“Ibu juga tidak tahu.”

 

“O iya, Mengapa kamu tidak cari tahu saja mengapa banyak alumni pesantren yang hidup miskin? Kalau kamu tahu penyebabnya, kamu bisa menghindarinya. Kalau kamu menghindarinya, kamu bisa menjadi alumni pesantren yang sukses sejahtera.”

“Tanya ke siapa, Bu?”

“Langsung ke kiai dan santri di pondok pesantren.”

“Bagaimana caranya?”

“Mondok.”

Mata Fatih berbinar-binar, seakan-akan ia baru saja menemukan titik temu ketegangan antara dirinya dan ayahnya. Mulai saat itu ia mau mondok, tapi dengan tujuan sampingan menyelidiki akar kemiskinan kaum santri. 

Satu jam berlalu, Pak Maftuh masih semedi di dalam kamar. Awalnya, ia membaca jampi-jampi panjang yang barangkali hanya dia satu-satunya manusia yang hafal. Tiga lembar sarung terlipat rapih di depannya. Dupa dibakar dan tasbeh diputar kencang. Kemudian hauqolah dibaca berulang-ulang sampai bibirnya keram.

Kunyuk!” Umpat Pak Maftuh yang terdengar sampai dapur.

Bu Maryam dan Fatih langsung paham bahwa umpatan itu adalah tanda ajian emas sekarung yang sedang bapak praktikkan  gagal.  Jika berhasil seharusnya di dalam sarung-sarung itu, muncul sebongkah emas secara gaib. Tapi sayangnya setiap kali praktik bapak selalu gagal. Fatih sampai-sampai meyakini bapaknya kurang waras. Ajian emas sekarung hanya akal bulus supaya ia tidak bekerja. 

“Aku tidak mau jadi orang miskin dan tak mau menutupi kemiskinan  dengan ajian-ajian gila itu.”

bersambung 

Lanjut Part 2


Facebook Comments

Leave a Reply

2 Replies to “Dua Bilik Hamba (1)”

  1. Pingback: Dua Bilik Hamba (Part 2) – rizalghod

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.