Kucing-Kucing Kota Depok (2)

Secepat siang mengejar pagi, berita terpenggalnya kepala Ael menyebar ke seluruh Pondok Cina. Ribuan kucing liar mengeong marah, merasa telah  dihina dan direndahkan. Satu demi satu kucing mengeong murtad dari agama Nabi Markus dan di bawah komando Louis, mereka bersatu untuk melakukan pemberontakan.

Louis adalah adik Ael sekaligus wakil ketua kucing Pondok Cina. Dengan kematian Ael, secara otomatis Louis naik jabatan menjadi ketua. Ia sangat murka atas kematian kakaknya. Lebih-lebih sebetulnya ia memiliki dendam pribadi kepada Markus. 

Kurang lebih empat tahun yang lalu, ia bersama Ael menghadiri acara pelantikan ketua-ketua kucing seluruh wilayah Depok yang diadakan di rumah tuhan. Dalam pada itu, Markus memberi khotbah berisi sabda ngeong yang sangat panjang. Mendengar khotbah yang tak selesai-selesai, Louis merasa bosan. Ia juga tak betah duduk berlama-lama di kursi sofa. Berkali-kali ia membetulkan posisi duduknya supaya nyaman. Namun tiba-tiba Louis tak sengaja mengeong dan kencing ‘di celana’. Tiga kucing loreng penjaga Markus menghampiri Louis, melilitkan tali ke rahangnya kemudian mengikatkan karet ke kemaluannya. Sontak hal itu membuat Louis mengeong marah. Secara reflek, Louis lalu mencakar muka tiga kucing loreng itu. Melihat keributan yang ditimbulkan Luis, Markus berhenti berpidato. Ia mendekati Louis dan bersabda,

“Kalau kata-kata tak bisa membuatmu mulutmu diam, cakaranku akan membuat seluruh anggota tubuhmu diam.”

Markus pun menyayat muka Louis dengan kuku-kuku tajamnya. Louis merintih, darah mengucur dan daging pipinya terlihat dari luar.

Luka di muka Louis bisa saja mengering, namun luka di hatinya tak berhenti menganga. Kematian Ael merobek kembali luka itu dan tak ada lagi obat untuk menyembuhkannya. Louis memiliki bulu yang hitam lebat. Ketika marah, bulu-bulu hitamnya berdiri tegak seperti duri-duri landak. Melihat bulunya saja, semua kucing sudah takut. Namun siang itu, disaksikan kucing-kucing Pondok Cina, di atas pusara kakaknya, Louis Si Hitam Legam menangis untuk pertama kalinya. Bulu-bulunya layu dan menebal, seperti hendak menyelimuti kesedihannya.

Louis

Selesai menabur bunga, Louis pergi ke Jalan Kedoya Raya. Ia menemui Bertrand, sesepuh kucing Pondok Cina, untuk meminta pendapat. Bertrand memiliki kumis putih, alis putih, dan telinga putih. Namun sisa tubuhnya berwarna hitam. Ia adalah kucing tua yang memiliki banyak pengalaman dan sangat ahli mengatur strategi. Tak heran bila dulu ia selalu dimintai nasihat oleh Ael dalam urusan diplomasi dan propaganda.   

Louis langsung mengutarakan rencananya untuk menyerang rumah tuhan malam nanti tepat pukul 3.00, saat umat manusia dan umat kucing tertidur pulas.

“Bagaimana menurutmu?”

“Apa tak terlalu terburu-buru, Louis? Markus bisa saja memiliki 1000 kucing loreng yang tersebar acak di sekitar rumah tuhan. Mereka selalu siap siaga menjaga Markus semalam suntuk. Kalau kita menyerang, artinya kita masuk ke mulut singa. ” Ucap Bertrand.

“Ada 1200 kucing jantan dan ada 800 kucing betina di Pondok Cina. Kalau semua ikut perang, kucing loreng kalang kabut. “

“Apa kamu yakin mereka semua ikut perang?”

“Yakin sekali! Kematian Ael pasti menohok hati mereka.”

“Seberapa besar jasa Ael sampai kucing-kucing Pondok Cina merasa kehilangan atas kematiannya?”

“Ini bukan masalah balas jasa, tapi harga diri. Harga diri mereka sedang diinjak-injak. Mereka pasti marah!”

“Membela harga diri kelompok memang bisa menjadi motif peperangan, namun kalau kamu ingin menang ada ketentuan yang harus dipenuhi. Yaitu musuh harus memiliki kekuatan setara dengan kita. Kalau musuhnya terlalu kuat, motif membela harga diri kelompok dengan sendirinya akan pupus. Tentara-tentaramu akan menimbang-nimbang mana yang lebih berharga: nyawanya atau harga diri kelompoknya. Di sinilah jasa Ael, sebagai simbol harga diri kelompok, sangat dibutuhkan. Apakah ia pantas dibela? Apakah hidupnya pantas dihargai nyawa seribu kucing? Jika tak punya jasa, motif membela harga diri kelompok akan rapuh dengan sendirinya.”

Louis tertegun. Ia berusaha mencari-cari jasa Ael. Namun sejauh ia mencari, sejauh itulah justru ia menemukan keburukan-keburukan Ael. Ia tersadar ternyata ia dan kakaknya selama ini tak pernah melayani rakyat. Tugas mereka hanya mengkampanyekan hukum-hukum Tuhan yang disabdakan Markus dan menangkap para pelanggar. Itu saja. Tak ada pembagian sembako dan bantuan langsung tunai. Akses pendidikan sulit. Kemiskinan menggerogoti keluarga pinggiran. Pengangguran merajalela. Begal kucing ada di mana-mana. Kriminalitas tinggi. Tanpa mengurangi hormat kepada hukum-hukum Tuhan, tepat dikatakan bahwa kucing pondok cina masih menerapkan hukum rimba.

“Jadi bagaimana menurutmu?”

“Kita harus membuat banyak lingkaran-lingkaran kelompok kecil.”

“Maksudmu?”

“Jika pensilmu tak bisa membuat satu lingkaran besar maka buatlah lingkaran-lingkaran kecil dan satukan. Jika kematian Ael tak cukup untuk membuat marah satu wilayah, buatlah kematian banyak kucing untuk membuat marah banyak keluarga. Lalu satukan.”

“Bagaimana caranya?”

“Langgar aturan Nabi secara massal.”

“Maksudmu?”

“Perintahkan 20 pasang kucing untuk berzina di jalan, di pasar, dan di tempat-tempat ramai. Sebar mereka ke daerah Sawangan, Pancoran Mas, Cimanggis, Cinere, dan Bojongsari. Sampaikan pesan bahwa berzina itu nikmat dan tak berdosa. Goda kucing-kucing lain untuk berzina. Digoda begitu, kucing-kucing jantan pasti tak tahan dan segera mencaplok betina.”

“Bagaimana kalau perzinaan itu diketahui Markus?”

“Justru itulah yang kita harapkan. Aku belum tahu bagaimana proses pemenggalan kepala pezina. Tapi yang jelas kematian banyak kucing akan mengundang emosi publik. Dengan demikian, kita bisa bekerjasama dengan kucing wilayah lain untuk membentuk pasukan aliansi.”

“Ide yang bagus.”

Sekembalinya dari Jalan Kedoya, Louis mengumpulkan dua puluh kucing jantan yang selama ini menjadi pengawalnya. Mereka di-briefing, dan diberi komando. 

“Cari betina dan gauli mereka di tempat-tempat ramai. Ajak kucing-kucing lain melakukan hal yang sama.”

“Tapi, itu kan dilarang, Komandan.”

“Tak ada lagi hukum-hukum Tuhan. Jangan patuhi Nabi palsu yang telah membunuh pemimpin kita. Lakukan pembangkangan dan angkat harga diri kucing pondok cina.”

“Siap, Komandan!”

****

Di pasar Pondok Cina, Soni dan ibunya sedang mencari makanan. Ketika menemukan tulang ikan yang sudah penuh belatung, mereka langsung melahapnya. Namun seketika ibunya muntah. Seluruh isi perutnya terkuras habis. Dari semalam kondisi ibunya terus memburuk. Tubuhnya panas, kepalanya pusing, dan kulitnya terus mengeluarkan keringat. Selain itu, di beberapa bagian tubuhnya terdapat benjolan kelenjar getah bening. Soni tahu bahwa itu adalah gejala HIV.

Ibunya tergeletak kelelahan di tengah pasar tanpa ada satupun manusia atau kucing lain yang menolong. Semua makhluk hiruk pikuk dalam kesibukannya masing-masing. Soni hanya bisa menangis pasrah. 

Tiba-tiba seekor kucing hitam berlari menghampiri Soni. 

“Pinjam ibumu sebentar, ya?”

Itu adalah kucing hitam komplotan Ael! Pasti mereka mau berbuat asusila lagi. Soni berusaha sekuat tenaga melindungi ibunya. Namun tenaga Soni masih terlalu kecil untuk berhadapan dengan kucing tentara. Soni terpental ke tumpukan sampah dan tertimpa kotak-kotak kayu bekas. Kepalanya bocor dan ia tak sadarkan diri.

“Wahai kucing-kucing Pondok Cina! Saksikan! Saksikan!” Ucap kucing hitam sambil mencaplok ibu Soni. Kucing-kucing lain berkumpul dan melihat adegan seperti di film-film itu.

“Tak ada hukum-hukum Tuhan. Kalian adalah kucing merdeka! Nasib kalian ada di tangan kalian! Tak ada pemenggalan! Tak ada nabi! Tak ada Tuhan!”

Awalnya kucing-kucing mengira itu kucing nekat dan gila. Namun setelah melihat ia begitu menikmati perbuatannya dan tak ada azab yang terjadi, seketika hasrat purba di dalam kepala mereka aktif kembali. Baik jantan maupun betina saling mencari pasangan. Mereka berpesta di pasar secara terang-terangan. Perasaan takut pada hukum-hukum Tuhan dikalahkan oleh napsu birahi.

Tak cuma di Pasar Pondok Cina, di hampir seluruh tempat ramai kota Depok terjadi zina kucing massal. Kucing-kucing yang hendak melakukan akad nikah di balai wilayah kaget melihat pesta seks itu. Mereka pun tak jadi menikah dan tergoda untuk berzina. Beberapa ketua wilayah bahkan menghapus aturan pernikahan karena banyaknya warga yang berzina.  Hanya sedikit kucing religius yang masih mematuhi aturan Tuhan. Propaganda Louis atas usulan Bertrand berhasil. 

Hari perzinaan massal itu ditutup dengan hujan. Kilat menyayat-nyayat gelap gulita malam. Halilintar menggelegar seperti suara Tuhan yang sedang murka. Soni terbangun di tumpukan sampah dan segera lari menuju tempat ibunya terakhir tergeletak. Namun ibunya raib. Hujan barangkali menyapunya bersama bekas-bekas perzinaan massal untuk dibersihkan dari dosa-dosa. 

Keesokan paginya, matahari menampakkan wajah muram. Seluruh kucing Depok dikagetkan oleh berita hangat yang menyebar dari ngeong ke ngeong. Dua kepala kucing yang sudah terpenggal masing-masing dikirimkan ke ketua-ketua wilayah. Barangkali itu adalah sabda tak langsung dari Markus bahwa ia tak main-main dengan hukum perzinaan ini.

Setelah siang meninggi, ada banyak laporan kucing hilang. Kalau ditotal, laporan kucing hilang di Depok mencapai angka 140. Jumlah yang fantastis! Kucing-kucing hilang itu memiliki kesamaan: Mereka semua telah berzina. Ada dugaan kuat bahwa kucing-kucing hilang itu diculik oleh tentara kucing loreng. Ibu Soni adalah salah satunya. Soni merasa sangat terpukul. Jelas-jelas ibunya diperkosa, bukan berzina. Mengapa ikut diciduk? Ibunya sama sekali tak memiliki consent ketika berhubungan seksual. Bukankah ibunya adalah korban? Bukankah ini kekerasan seksual? Di mana keadilan di dunia kucing?

Mulai hari itu, Soni bertekad untuk mencari ibunya. Ia harus temukan ibunya, hidup atau mati. Ia bersumpah akan menumbangkan kediktatoran Markus dan merevisi seluruh hukum agama yang tak masuk akal.

Peristiwa penculikan ratusan kucing itu terjadi pada tanggal 26 September 2020. Oleh karenanya, peristiwa itu disebut tragedi 26 September. Tragedi ini menjadi titik balik kesadaran diri umat kucing. Meski awalnya dipicu oleh emosi, namun kucing-kucing itu pun mulai berani mengungkapkan pikirannya. Mereka mulai berani menginterupsi hukum-hukum Tuhan dan berusaha merumuskan kebijakan sendiri tanpa harus berhubungan dengan langit. Tanggal 26 September dikenal sebagai tanggal lahirnya gerakan “pembebasan kucing”, gerakan yang menandai awal dimulainya zaman modern kucing.


Bersambung

Part 1

Part 3

Facebook Comments

Leave a Reply

2 Replies to “Kucing-Kucing Kota Depok (2)”

  1. Pingback: Kucing-Kucing Kota Depok (1) – rizalghod

  2. Pingback: Kucing-Kucing Kota Depok (3) – rizalghod

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.