Problem Kebaikan (1) : Introduksi

Bayangkan Anda pengendara mobil yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi dan beberapa meter di depan mobil Anda, lima pekerja sedang beristirahat di tengah jalan. Jika Anda tidak menghentikan mobil, lima pekerja itu akan tertabrak dan mati. Sayangnya rem mobil Anda jebol, tak dapat digunakan. Anda mencoba untuk berhenti tetapi tak bisa. Ada jalan lain untuk menghindar, yakni membelokkan mobil ke kanan jalan (Tidak ada cara lain). Namun di kanan jalan, ternyata ada satu pekerja yang juga sedang istirahat. Perhatikan dilema ini. Jika Anda tidak banting setir, maka lima pekerja mati. Jika Anda banting setir, maka satu pekerja mati. Jalan mana yang Anda pilih?

Umat manusia terbagi menjadi dua ketika menjawab pertanyaan ini. Mayoritas manusia, mungkin termasuk Anda, akan memilih untuk membanding setir, membunuh satu nyawa pekerja untuk menyelamatkan lima nyawa pekerja lainnya. Jelas bahwa lima nyawa lebih berharga daripada satu nyawa. Jika ada dua kerugian yang harus dipilih, maka pilihlah kerugian yang lebih ringan. Sepintas problem ini tidak susah untuk dipecahkan, tapi sebetulnya ada banyak misteri tentang problem kebaikan di dalam cerita yang belum diselesaikan. Banyak filsuf yang menyanggah pendapat mayoritas di atas. Katanya, meskipun dalam kondisi terdesak, pembunuhan tetaplah pembunuhan. Tindakan sopir yang sengaja menabrak satu pekerja demi menyelamatkan lima pekerja tak bisa dibenarkan, karena itu adalah pembunuhan.

Problem kebaikan adalah masalah yang sangat esensial dan sangat menarik untuk didiskusikan. Kita, yang sejak lahir sudah diberi seperangkat doktrin dan aturan instan, mungkin tidak tertarik untuk mendiskusikannya karena bagi kita kebaikan itu sudah selesai. Kebaikan sudah final dan sudah sejak dulu diketok palu oleh instansi-instansi agung, seperti agama, budaya, dan komunitas sosial. Bagi agamawan, masalah pengendara mobil di atas barangkali bisa diselesaikan cukup dengan membuka kitab suci. Bagi anak kecil, masalah di atas bisa diselesaikan dengan meminta jawaban doktrin dari orang tua. Akan tetapi kitab suci seringkali tidak selalu menawarkan solusi yang eksak. Orang tua terkadang tidak lebih pintar dari anaknya. Manusia dituntut untuk berpikir sendiri dan menyimpulkan solusi dari ayat-ayat yang kabur dan dari dari doktrin orang tua yang tidak relevan. Manusia tetap harus berdialektika untuk mencari landasan moral yang sesuai.

Sekarang, bayangkan, Anda sedang berada di atas fly over. Di bawah Anda terbentang jalan dan sebuah mobil melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi. Anda tahu bahwa mobil itu tidak bisa mengerem, remnya jebol. Tepat beberapa meter di depannya, lima pekerja sedang tidur istirahat di tengah jalan. Dalam waktu sekian detik Anda tahu bahwa lima-limanya akan tewas terlindas mobil. Di samping Anda, masih di atas fly over, ada orang gemuk yang sedang duduk santai. Anda bisa saja mendorong orang gemuk itu agar jatuh dan menghentikan laju mobil demi menyelamatkan lima nyawa pekerja, tapi lagi-lagi Anda terjebak di dalam dilema: Jika Anda mendorongnya, Anda membunuh satu nyawa. Tapi jika Anda tidak mendorongnya, Anda membiarkan lima nyawa terbunuh. Yang mana yang akan Anda pilih? Berhenti membaca, pikirkan sejenak.

****

Mayoritas manusia, termasuk Anda, memilih untuk tidak mendorong Si Gemuk, meskipun harus menonton lima nyawa melayang. Pilihan ini seratus persen melanggar prinsip moral pada kasus pertama, prinsip bahwa lima nyawa lebih berharga dari satu nyawa. Di kasus kedua ini, prinsip itu tidak lagi berlaku. Justru satu nyawa lebih berharga dari lima nyawa. Apa yang membuat kasus kedua ini berbeda? Apa yang spesial?

Ada pendapat seperti ini: Perbedaan keduanya adalah, meskipun sama-sama memilih untuk membunuh, di kasus pertama pembunuhan terjadi secara pasif sedangkan di kasus kedua pembunuhan terjadi secara aktif. Pembunuhan pasif adalah pembunuhan yang dilakukan dalam kondisi terpaksa. Di kasus pertama, Sang Sopir tak punya pilihan lain selain membunuh, entah membunuh lima nyawa atau satu nyawa. Ia tak bisa melarikan diri dari salah satu pembunuhan tersebut. Oleh karena tak dapat menghindar, maka tindakan sopir untuk membanting setir dan membunuh satu nyawa itu bisa dibenarkan. Sementara itu, pada kasus kedua, pembunuh (Anda yang berdiri di fly over) tidak memiliki keterpaksaan untuk membunuh. Sejak awal, Anda tidak terlibat dalam kecelakaan itu. Anda punya kebebasan untuk mendorong atau tidak mendorong si gemuk. Oleh karena itu, jika Anda tiba-tiba mendorong Si Gemuk, maka Anda membunuhnya dengan sengaja dan tindakan Anda patut disalahkan. Singkatnya pembunuhan di kasus pertama terjadi karena terpaksa sedangkan di kasus kedua pembunuhan dilakukan dengan kebebasan.

Tapi pendapat ini punya kecacatan. Dilihat dari sudut pandang korban, Si Gemuk atau Si Pekerja yang duduk sendirian sama-sama mulanya tidak terlibat di dalam kecelakaan. Keduanya tidak berada di jalur mobil dan seharusnya tidak dibawa-bawa sebagai kandidat korban. Jika kemudian tiba-tiba mereka diseret ke jalan maut, maka itu sebuah kebiadaban. Dan lagi, di kasus pertama, Si Sopir tidak sepenuhnya membanting setir karena terpaksa. Ketika ia memutuskan untuk membanting setir, ia melakukannya dengan penuh sadar dan menggunakan seluruh kehendak bebasnya. Dan, di kasus kedua, Si Pembunuh tidak sepenuhnya mendorong Si Gemuk dengan kebebasan. Pembunuh separuh dipaksa oleh keadaan. Karena melihat lima orang akan terlindas, hatinya tergerak untuk mendorong Si Gemuk. Ia membunuh karena terpaksa! Jadi, bertolak dari sini, sebetulnya pembunuhan aktif dan pasif itu sebetulnya mirip-mirip. Dua-duanya pembunuhan yang ditunggangi oleh kata hati.

Pertanyaan di atas masih belum terjawab. Mengapa prinsip lima nyawa lebih berharga dari satu nyawa tidak berlaku di beberapa kondisi? Apakah prinsip itu bukan prinsip moral umum? Apakah ada satu landasan kebaikan yang bersifat umum dan menyeluruh? Apa yang baik dan apa yang buruk sepertinya masih samar bagi manusia. Perlu kita diskusikan lebih lanjut di blog-blog berikutnya.

Problem Kebaikan 1
Problem Kebaikan 2
Problem Kebaikan 3
Problem Kebaikan 4
Problem Kebaikan 5

Facebook Comments

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.