Mengapa Manusia Mempertahankan Cinta?

Bayangkan sepasang suami istri sedang duduk di beranda. Keduanya berada pada penghujung usia 70. Beberapa gigi telah tanggal dan ratusan rambut telah memutih. Jika dilihat sekilas, kondisi “percintaan” mereka berkebalikan dengan drama korea. Diketahui Sang Istri mengidap penyakit alzeimer dan stroke, tak bisa bicara dan tentu jauh dari kata cantik.

Namun, sekali lagi bayangkan, suami dari nenek jompo itu ternyata duduk dengan bahagia di sampingnya, menatapnya dengan lembut, menyuapi dan menghiburnya dengan tulus. Cintanya tak lekang oleh masa. Kasih sayangnya tak berkurang setetespun. Rindunya menggebu-gebu seperti baru pertama kali berbulan madu. Padahal Sang Istri hanya diam, separuh gila, sambil mengembang-kempiskan nyawa.

Lalu mari kita ajukan pertanyaan, kira-kira apa yang membuat kakek itu tetap bertahan meski di dalam kondisi seperti itu? Apa alasannya? Mari sejenak menjadi detektif hati.

Barangkali kecantikan? Tidak! Wajah nenek itu sudah luntur.

Barangkali kekayaan? Tidak juga! Nenek itu bahkan lebih banyak menghabiskan uang (untuk berobat rutin) daripada menghasilkan uang. Tak ada keuntungan secara finansial dari merawatnya.

Barangkali garis keturunan? Tidak! Nenek itu tak lebih dari wanita biasa, bukan keturunan ningrat ataupun kesatria.

Barangkali karena kesahelannya? Tidak! Nenek itu, setelah diserang alzeimer, berubah menjadi pribadi baru. Ia tak mengenal tuhan. Ia tak mengenal nabi. Bahkan tak mengenal suaminya.

Lalu mengapa Si Kakek kukuh bertahan di samping istrinya yang separuh gila?

Kita telah mengeliminasi empat alasan mencintai pasangan yang diajukan oleh Nabi Muhammad S.A.W. Keeampatnya ternyata tidak bisa dijadikan jangkar untuk menambatkan hati di pulau yang bernama cinta. Keempatnya volatil, rentan berubah, dan mudah menguap. Dan lagi keempatnya tidak universal. Tidak semua orang mempunyainya, dan tidak semua orang bisa membelinya. Mungkin itu bisa dijadikan alasan jatuh cinta, tapi tidak alasan mempertahankan cinta.

Jika ada yang mengutip kata-kata kosong penyair berikut: “Apa tidak cukup alasan mencintai selain cinta itu sendiri?”, maka mari kita katakan, “Apa tidak cukup alasan untuk tidak mencintai selain tidak mencintai itu sendiri?” Keduanya sama-sama memiliki alur logika yang sama, akan tetapi kalimat pertama terasa lebih memabukkan pasangan.

Saya akan mengajukan dua alasan mengapa Kakek itu bisa mempertahankan cinta. Saya dapatkan dua alasan ini setelah bergumul dengan dingin, di gubuk tua, di tengah badai salju, sendirian, layaknya Heidegger.

Satu, kenangan.

Si Kakek mau bertahan di samping istrinya karena ia memiliki kenangan bersamanya. Dulu, ia pernah berbulan madu, ia dimasakkan, dipijat, dan dilayani sebagaimana raja. Meski sekarang tak lagi, namun kenangan tak pernah berubah, selamanya membeku seperti potret foto. Setiap kali Si Kakek hendak berubah pikiran, kenangan menegur kepalanya agar konsisten mencintai nenek, merawat sumber kenangan itu sendiri. Semakin bertambah masa, kenangan akan semakin banyak dan semakin terang, tak ada yang sedikitpun berubah. Asalkan kepala Sang Kakek normal, logikanya masih berjalan, dengan kenangan Kakek dapat tetap mencintai istrinya dengan tulus dan rela. Konsekuensinya, jika Sang Kakek menderita penyakit alzeimer juga, maka takkan mungkin ada cerita cinta mengharukan seperti ini.

Dua, Kesetiaan.

Konsekuensi dari adanya alasan kenangan adalah bahwa jika kenangan itu dirusak maka wajar bila cinta di dalamnya juga ikut rusak. Bila jangkar kenangan telah hanyut maka laju bahtera mesti berubah arah. Tak ada yang bisa pergi ke masa lalu untuk mengubah kenangan. Belum ada juga teknologi neurosains yang dapat menghapus kenangan di dalam kepala. Namun, ada satu metode efektif menghapus kenangan, yakni ketaksetiaan. Tak setia artinya menjatuhkan hujan sehari yang menghapus kemarau bertahun-tahun. Rumah yang sebentar lagi berdiri tersenggol dan runtuh. Batu kenangan tiba-tiba satu per satu terlepas, seakan seutas tangan dilemparkan ke masa lalu dan mengobrak-abriknya.

Itulah dua alasan yang bisa menjadi jangkar dalam mempertahankan cinta. Tanpa keduanya, cinta di keluarga hanya sebatas pergumulan badan. Perjodohan hanya akan menambah angka perceraian sebab pasangan suami istri tak punya kenangan. Kecantkan dan kekayaan akan cepat menguap ke udara.

Maka perlu adanya pendekatan diri sebelum menikah untuk menciptakan kenangan dan melatih diri untuk selalu setia setelah menikah. Perlu adanya pendekatan, perkenalan, penghangatan, dan pencocokan, hingga sampai pada proses pernikahan. Setelah menikah, akan ada banyak ujian, maka perlu adanya kesabaran dan kegigihan dalam memperjuangkan cinta.

Facebook Comments

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *