Mata Cermin

Di dalam cadarku, ada lautan yang tenang. Jangan menyentuhnya! Nanti kau digulung gelombang!

Kalimat itu Nafisah ulang-ulang bersama ayat kursi di dalam hati ketika melewati pertigaan belakang kampus. Acara pengkaderan mahasiswa-baru menyita waktu malamnya. Siulan demi siulan membuat tubuhnya merinding. Empat mahasiswa senior entah dari penjuru mana mengepungnya dan membekapnya dalam sepi.

“Lepas cadarnya dong, Cantik.”

“Hayo… Mau lepas sendiri atau dilepasin?”

“Jangan-jangan dia tonggos.”

“Jangan-jangan dia sumbing.”

Ia membeku. Tak tahu apa yang mesti dilakukan. Bukankah ia telah memakai pakaian yang rapat? Mengapa senior-senior ini masih menggodanya? Ia mulai berinstropeksi diri. Memang, hari ini ia memakai kemeja berwarna mencolok dan mata lentiknya tidak ditutup kacamata. Boleh jadi itu yang membangkitkan syahwat laki-laki.

Situasi seperti itu sangat asing baginya, putri bungsu kiai sekaligus lulusan pesantren yang baru kemarin sore menjejakkan kaki di ibu kota. Jangankan digoda, berpapasan dengan laki-laki saja ia tak pernah. Di pesantren milik abahnya, asrama putra dan putri dipisah dua sungai dan dua jurang. Bertemu lawan jenis adalah dosa besar. Hukumannya lebih berat dari mencuri dan berkelahi. Pernah suatu kali, dua sejoli tertangkap basah sedang berduaan di pinggir sungai. Mereka diseret oleh keamanan pondok dan diarak berkeliling komplek asrama seperti pengantin baru dan esok harinya, dikeluarkan dari pesantren.

Semua keluarga Nafisah bercadar. Abahnya sebenarnya membebaskan busana anak-anaknya, tapi karena ibunya tak pernah lelah mendoktrinkan dan mencontohkan, kakak-kakaknya jadi ikut bercadar. Waktu kecil, Nafisah bertanya-tanya mengapa ibu dan kakak-kakaknya menutup wajahnya seperti ninja, sedangkan ayahnya tidak. Mengapa juga perempuan lain, seperti santri ndalem, hanya menutup rambut. Artis-artis di TV malah berpakaian terbuka.

“Sebab dalam islam, wanita itu seperti emas, Nduk. Semakin mahal harganya, semakin rapat kotak simpannya,” ucap ibunya.

“Lagian pakai cadar itu kan nambah kecantikan dan kehormatan diri. Lihat kakak-kakakmu itu.”

Kakak-kakaknya sangat cantik dan berwibawa. Semuanya menikah dengan pria-pria baik; putra kiai, anak walikota, atau sarjana-sarjana timur tengah. Hanya Nafisah yang belum menikah. Sudah menjadi tradisi di keluarganya, selepas lulus MA, anak-anak perempuan harus menikah. Entah kemudian ia melanjutkan studi atau menetap di rumah suaminya. Pokoknya menikah dulu. Tujuannya untuk menghindari zina dan pergaulan bebas. Kadang-kadang pernikahan itu agak lebih mirip perjodohan paksa. Kakak-kakaknya menikah bukan atas dasar cinta, tapi karna kepatuhan orang tua. Jangankan memilih atau pacaran, kakak-kakaknya bahkan tidak mengenal calon mempelai.

“Jangan pacaran, Nduk. Kamu harus mempersembahkan seluruh tubuhmu untuk suamimu.” Ucap ibunya. “Jika kamu pacaran sebelum menikah, maka berapa persen dari tubuhmu yang akan kauberi untuk suamimu?”

“Kalau pacaran dengan calon suami, Umi?”

“Tetap tidak boleh. Calon suami kan belum jadi suamimu.”

Nafisah menolak dinikahkan. Ia ingin bebas menuntut ilmu dan memiliki sudut pandang yang luas. Meskipun keluarga melarang, dengan terpaksa Nafisah diizinkan berkuliah di salah satu universitas islam di ibukota. Orang tua dan kakak-kakaknya selalu menasihatinya agar selalu menjaga diri. Bahkan demi memastikan baiknya pergaulan, setiap minggu abah selalu menawarinya kuliah sambil menikah.

“Jaga diri baik-baik. Pakai cadarmu selalu, supaya orang jahat segan menggodamu.” Kata Umi sebelum ia beragkat ke Jakarta.

Ah, Umi. Sekarang aku harus bagaimana? Aku telah mengundang kucing hidung belang untuk berpesta. Aku lupa tidak memakai kacamata hitam dan baju longgar. Ingin sekali kurajam diriku sampai remuk redam. Maafkan aku Umi, Abah, Kakak…

Ia sudah pasrah. Badai yang terbendung di balik cadarnya kini merembeskan air mata. Senior-senior mulai mendekat dan mencolek-colek kerudungnya. Satu colekan terasa seperti sayatan puluhan pedang. Lengannya memeluk kesucian tubuhnya yang dipintal prinsip-prinsip yang diajarkan keluarganya. Jika bisa, ia ingin menghapus hari ini. Ia malu kepada suami masa depannya. Masihkan tubuhnya suci dan bisa dipersembahkan padanya?

Tiba-tiba dari arah belakang, seorang wanita berteriak merusak hening.

“Woy… Pergi lusemua. Itu adek tingkat gue!” teriaknya seraya mengepalkan tangan.

“Ah, ngga seru nih. Minjem bentar, Ken,” keluh salah satu senior.

“Lu kira dia perabotan rumah? Udah pada gila lu semua.”

Senior-senior mesum itu membanting muka. Perlahan mereka melepaskan cengkeraman sepi dari tubuh Nafisah. Nafisah masih tak percaya empat lelaki bisa dikalahkan hanya dengan kata-kata seorang wanita. Dalam benaknya, perempuan selalu berada di bawah laki-laki. Membentak dan melawan laki-laki adalah pamali bagi perempuan. Nafisah semakin mengagumi Kak Niken, Ketua BEM Fakultas Adab dan Humaniora yang sangat kharismatik itu.

“Biar ngga digodain lagi, gue temenin sampe asrama lu,” ucap Niken ramah.

“Terima kasih Kak Niken.”

“Niken saja. Semua perempuan setara, Nafisah.”

Dari mana ia mengetahui nama Nafisah? Ia baru berusia tiga hari di kampus itu.

“Aku tidak terbiasa memanggil orang yang lebih tua langsung dengan namanya, Kak.”

“Biasakan dengan gue.”

“Tetap tidak bisa, Kak.”

“Ya sudah.”

Sepanjang jalan menuju asrama, hati Nafisah berjingkrak-jingkrak. Merupakan suatu kebanggan tersendiri bagi mahasiswa baru bisa dikenal oleh cewek kharismatik itu. Sedikit mahasiswa dikenal bahkan berjalan bersama seperti ini bersamanya.

“Bagaimana kabar abah?” ucap Niken tiba-tiba.

“abah? Abah siapa, Kak?”

“Abah kamu. Kiai Abdul Qodir.”

“Hmm… Dari mana Kak Niken tahu namaku dan nama abahku?”

“Gue dulu santri di pondok aba lu. Ga sampai lulus, tapi gue cukup dikenal oleh abahdan ustaz-ustaz. Begitu lu diterima di Universitas ini, segera abah menghubungi gue dan mengamanati buat menjaga lu.”

“O… begitu. Terima kasih banyak, Kak.”

“Sama-sama. Anggap saja gue pengganti kakak kandung lu sendiri.”

Hati Nafisah berjingkrak-jingkrak. Di tempat yang asing seperti ini, masih ada Niken yang baik dan peduli padanya. Lebih-lebih, Niken ternyata punya hubungan kesantrian dengan abahnya.

“Kak Niken, tapi kok aku tidak pernah melihat Kakak di pondok, ya?”

“Mungkin lu sempat mengenal gue tapi nama gue dulu bukan Niken. Lu pasti kaget kalo tahu nama lama gue”

“Kenapa Kak?”

“Siti Nur Khodijah. Itu nama lama gue.”

Astaga! Nafisah terperanjat. Siti Nur Khodijah, atau biasa disebut Mbak Khodi, adalah santri putri yang tertangkap basah berduaan dengan laki-laki di pinggir sungai dan dikeluarkan atas tuduhan pacaran. Perempuan yang dikutuk oleh abahnya itu sekarang menjadi perempuan hebat dan melindunginya dari sengatan lelaki. Dengan kata apa ia membahasakan kontradiksi ini? Menurut pikiran logisnya, perempuan yang dikeluarkan dari pondok karena pacaran tidak akan sukses. Kutukan kiai akan merusak masa depannya dan karma akan mengobrak-abrik hidupnya.

“Ga usah kaget. Gue dulu emang tolol banget.”

Nafisah masih tidak bisa berkata-kata.

“Waktu itu, gue cuma penasaran aja kenapa santri ngga boleh pacaran. Sepele sih, tapi tiga hari tiga malem gue ga bisa tidur mikirin logika di balik larangan pacaran. Gue mikir begini, santri cewek dilarang pacaran tapi begitu lulus pondok malah dinikahkan. Apa tujuannya, coba? Kalau tujuan dilarangan pacaran adalah agar fokus menuntut ilmu, kenapa begitu lulus pondok dituntut langsung menikah? Kan sia-sia dong fokus belajarnya. Iya, kan?”

“Iya, Kak.” Ucap Nafisah mendengar argumen tabu yang keluar dari wanita itu. Di pondoknya, menikah setelah lulus adalah tradisi yang semi-wajib bagi santri putri. Delapan puluh persen mereka menikah, entah menikah sendiri atau dijodohkan.

“Gue protes dong. Gue udah tanya ke ustaz, ustazah, bahkan ke abah. Kenapa gue dan temen-temen gue dilarang pacaran tapi dituntut langsung menikah abis lulus? Dan lu tau apa jawaban mereka? ‘Karena cewek cukup mengetahui dasar-dasar agama saja. Selebihnya, biar cowok yang belajar. Cewek itu tempat berjuangnya di kasur, sumur, dan dapur. Selebihnya, biar cowok yang kerjakan. Oleh karena itu, setelah lulus sebaiknya cewek menikah. Bila tidak, dikhawatirkan akan menimbulkan fitnah.’ Tuh, coba, cewek udah dibatasin kemampuannya oleh tradisi, oleh aturan main, oleh ucapan kiai. Cewek dianggap sebagai masalah yang harus diselesaikan dengan dua langkah: kasih dia pendidikan dasar lalu nikahkan. Bila tidak segera diselesaikan, ia menjadi sumber fitnah yang dapat merusak reputasi keluarga.”

Nafisah diam. Ia masih mencerna pandangan-pandangan yang jelas berseberangan dengan prinsip hidupnya selama ini.

“Cewek itu dikekang. Harus dibungkus pakaian serapat mungkin seolah-olah di dalam pakaian itu tersimpan benih-benih kejahatan yang tidak boleh dilihat. Cewek harus dikurung di rumah seolah-olah tubuh cewek menyimpan bom yang akan merusak diri sendiri dan lingkungan.”

Nafisah tersindir.

“Karena itulah, gue memberontak. Gue pura-pura suka santri putra dan mengajaknya berduaan, agar kritik gue didengar. Tapi ternyata kritik gue malah kandas. Gue diarak keliling pondok terus dikeluarin. Tapi gue masih bersyukur karena Kiai Abdul Qodir tidak sampai mengutuk dan malah mendoakan yang terbaik buat gue saat keluar.”

“Di kampus ini, gue melanjutkan perjuangan gue mengangkat harkat dan martabat wanita. Wanita bukanlah cermin yang selalu meniru, mengikuti, dan pasrah kepada tradisi, stigma, dan bias masyarakat. Ia bukan cermin yang pasif dan bisa dikendalikan seenaknya dari luar. Ia bukan cermin yang selalu meng-copy dan selalu melayani seolah-olah ia tak memiliki tubuhnya sendiri.”

“Perempuan adalah mata! Mata yang selalu bebas melihat apa saja dan menyimpan apa saja. Mata yang dapat menentukan nasibnya sendiri.”

Tak pernah terlintas gagasan seperti itu di kepala Nafisah. Semua kalimat Niken benar. Asrama telah terlihat di ujung jalan. Malam semakin dalam. Gagasan-gagasan Niken akan menjelma mimpi-mimpi baru pada tidur Nafisah malam itu.

Indramayu, 10 Mei 2021.

Facebook Comments

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *