Makna

Manusia tidak bisa hidup tanpa makna. Manusia butuh makna agar semua tindakannya menjadi logis. Makna adalah otoritas yang tak pernah berhenti memerintah dan manusia butuh otoritas itu. Tanpa otoritas, manusia akan tepekur diam dan berpikir bahwa mati lebih baik.

Makna yang saya maksud adalah identitas diri. Manusia, di manapun mereka berada, pasti memiliki setidaknya satu identitas diri, misalnya sebagai muslim atau sebagai sosialis. Seorang manusia bahkan bisa memiliki lebih dari satu identitas sekaligus dalam satu waktu. Tan Malaka adalah seorang muslim sekalgus sosialis. Identitas-identitas itu menjadi peta jalan kehidupan bagi pemiliknya, memerintah apa yang mesti dilakukan dan melarang apa yang tak boleh dilakukan.

Seorang petani bangsa Sumeria (3000 SM) memiliki keyakinan akan adanya dewa matahari yang mengatur pertumbuhan padi. Oleh karenanya, mereka setiap tahun mempersembahkan puluhan kepala kerbau untuk dewa matahari supaya panennya lancar. Perbuatan mereka dari menyembelih kerbau hingga membuang kepala kerbau ke sawah diilhami atau diinstruksi oleh makna sebagai hamba dewa matahari. Ketika panennya berhasil, mereka bersyukur. Dan ketika panennya gagal, bukannya berhenti berkorban, mereka justru akan berinstopeksi, apakah kerbau yang dikorbankan kurang banyak? apakah kurang sehat? Mereka akan terus menerus mengorbankan kerbau, tak peduli pada hasil panen entah bagus atau jelek, hanya supaya perbuatan korban mereka selama ini tidak sia-sia dan konyol.

Dari zaman Sumeria (3000 SM) hingga modern, selama kurun waktu 3000 tahun, ruang perdebatan makna hidup tak pernah sepi. Filsuf-filsuf baru menyalahkan filsuf pendahulu dan filsuf-fisuf sezaman saling beradu cekcok untuk mengajukan makna hidup terbaik bagi manusia. Meski terdengar konyol, filsuf-filsuf itu berusaha menjawab satu pertanyaan ini, “Untuk apa saya hidup?”. Ini sungguh pertanyaan penting. Jawaban pertanyaan ini punya konsekuensi yang besar.

Orang fasis, misalnya Hitler, berkeyakinan bahwa tujuan hidup adalah mempersembahkan seluruh daya untuk negara. Konsekuensinya, agenda besar hidupnya adalah memusnahkan bangsa-bangsa lain dan menjadikan Jerman sebagai satu-satunya negara superior.

Orang komunis, misalnya Karl Marx, akan berkata bahwa tujuan hidup saya adalah mengobrak-abrik kaum borjuis, orang-orang kaya, bangsawan, dan para majikan, demi mewujudkan cita-cita negara komunis. Maka agenda besar hidupnya adalah revolusi, propaganda, dan kudeta.

Saya awalnya menganggap pencarian makna hidup adalah konyol karena bagi saya makna hidup tidak sulit ditemukan. Identitas saya adalah muslim dan tujuan hidup saya adalah untuk beribadah. Namun setelah dipikir ulang, ternyata makna tersebut tidak saya ciptakan sendiri, melainkan diciptakan oleh keluarga dan masyarakat. Saya lahir dari keluarga muslim dan lingkungan muslim, tentu dengan mudah saya menerima islam. Bagaimana seandainya saya lahir dari keluarga non-islam?

Apa makna hidup yang saya miliki sekarang adalah makna yang terbaik atau hanya makna yang ikut tradisi saja.

Makna hidup harus dicari. Itu kesimpulan saya. Meskipun pada akhirnya pencarian itu harus berakhir kembali ke makna awal, sebagai seorang muslim misalnya, ada perbedaan antara muslim yang mengikuti tradisi dengan muslim yang menemukan islam lewat berpikir mandiri. Imannya lebih kuat. Ia telah lulus dari cobaan iman dan berhak mendapatkan keududkan hamba yang lebih tinggi.

Facebook Comments

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *